Monday, February 9, 2009

Dengan Kasih Kaum Muda Menggugah Dunia

Sumbangan Kaum Muda terhadap Negara dan Gereja

Memandang sebelah mata pada para muda adalah berdosa pada negara tercinta ini. Ada yang luar biasa kala para muda bersumpah pada tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu. Sumpah itulah yang terus menggerakkan kesadaran hingga membawa negara ini pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kaum muda telah menggoreskan tinta emas pada sejarah bangsa ini. Mereka bersumpah, dan sumpah itu terus dihidupi, sehingga lahirlah bangsa Indonesia yang menjadi tanah air tercinta. Tidak dapat dipungkiri, semangat muda yang menyala-nyala di hati Bung Karno dan Bung Hatta, misalnya, menjelma menjadi kekuatan luar biasa. Gerakan kaum muda adalah gerakan pemerdekaan. Sekarang, bagaimana kabar kaum muda Indonesia?

 

Untuk menjawab bagaimana kabar kaum muda Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kaum tua negri ini. Menarik untuk disorot adalah sematan julukan yang diberikan kepada kaum muda. Generasi muda adalah masa depan bangsa, harapan bangsa, sering didengung-dengungkan kaum tua, tiap kali mereka bicara di depan kaum muda. Dalam lingkungan gereja, kata-kata senada pun bergema. Generasi muda adalah masa depan gereja, harapan gereja. Selama ini, kata-kata sakti itu rupanya telah mampu membius para generasi muda untuk terus menunggu waktu berkiprah bagi bangsa dan gereja. Celaka lagi, bila dibalik kata-kata sakti itu ada agenda tersembunyi supaya kaum muda merupakan pelaksana rencana orang tua semata.

 

Kini, kata-kata sakti itu harus dikritisi. Kaum muda bukan hanya masa depan bangsa dan Gereja, tetapi mereka adalah masa kini bangsa dan Gereja. Artinya, kaum muda tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana rencana orang tua. Kaum muda punya jiwa. Jiwa ini perlu terus dipelihara. Biarkan mereka menjadi perencana sekaligus pelaksana. Ingat, 28 Oktober 1928 bukan sumpah orang tua, tetapi sumpah pemuda!

 

Mungkin, kebanyakan orang tua masih berpikir bahwa kaum muda belum berpengalaman. Orang tua sangat mengkhawatirkan akan terjadinya kesalahan. Seolah, kaum muda tidak berhak berbuat salah dengan trial and error. Karena itu, tidak ada peluang bagi kaum muda untuk belajar dari pengalaman. Ini tentu sangat menyedihkan. Untuk mengusir kekhawatiran yang tidak berguna ini, perlulah kiranya untuk menengok pengalaman suci yang ada dalam teks-teks Kitab Suci.

 

Daud Sang Pemuda Israel yang Gagah Berani

Semula, Daud sang gembala muda itu memang tidak diperhitungkan. Saudara-saudaranya sendiripun meremehkannya. Namun, ketika mendengar suara ancaman terhadap suku bangsanya. Ia pun menegaskan diri dengan bertanya, "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"  (1 Samuel 17:26). Dari pertanyaan yang diajukan kepada orang-orang di dekatnya, nyata betapa Daud sangat peduli pada nasib bangsanya. Betapa geramnya anak muda itu mendengar cemoohan untuk Israel. Sebuah sikap “nasionalisme” pun begitu membara di dada Daud. Israel adalah tanah airnya, maka tidak ada yang boleh mencemooh.

Memang, nasib anak muda di mana-mana hampir sama. Selalu sulit menemukan tempat ekspresi. Banyak sekali penghalang menghadang. Kecuali saudara-saudara Daud sendiri, Raja Saul yang sebenarnya sangat terancam pun tak sungkan-sungkan untuk meremehkan Daud lebih dulu. Syukurlah, Daud bukan anak muda yang cengeng. Dia punya sikap hati yang jelas dan tegas. Dia punya karakter pemberani dan yang tidak mudah menyerah. Di hadapan Raja Saul, dengan berani menunjukkan siapa dirinya.

"Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.

Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."

Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

(1 Samuel 17:34-37)

 

Menarik untuk diamati, betapa Daud adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan padanya. Sebagai seorang gembala, ia pun siap mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi para kawanan domba dari binatang buas, singa dan beruang. Di hadapan Raja Saul, jiwa muda Daud nampak terang-benderang. Hal itulah yang membuat Saul menyerah. Tak ayal, diserahkannyalah tempat senapati Israel kepadanya, untuk bertempur melawan Goliat, orang Filistin yang menghina Allah Israel. Dan, Goliatpun tewas di tangan Daud, pemuda Israel yang gagah berani.

 

Kisah ini adalah kisah inspiratif bagi kaum muda. Melalui Daud, pemuda Israel itu, kehormatan bangsa Israel diselamatkan. Ketakutan kolektif akibat ancaman Goliat, berubah menjadi pekik harapan yang membahana. Jiwa muda, karakter mudanya begitu menyemangati rakyat dan pasukan Israel untuk terus menjaga kehormatan bangsa. Nyatalah bila peran kaum muda tidak bisa diremehkan. Kisah suci dalam Kitab Suci menegas hal ini. Selain Daud, dari keturunannya pula, ada seorang pemudi yang luar biasa. Adalah Maria, pemudi yang sangat berperan dalam karya penyelamatan Allah.

 

Maria Sang Pemudi Berhati Murni

Kemurnian hati Maria sungguh mempesona. Tak heran bila salam penuh rahmat dari Malaikat pun sampai kepadanya. Demikian Malaikat Gabriel menyapa, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (Injil Lukas 1:28). Memang, ia perempuan biasa. Namun, ada kualitas lain yang membuat Malaikat Gabriel berkunjung ke dusun sepi, Nasareth. Ada kualitas batin yang dipunya Maria sehingga Allah pun mengutus utusan untuk menyampaikan kata-kata berkat kepadanya. Maria adalah gadis yang diperkenan Allah menjadi sarana bagi kedatangan-Nya di dunia. Melalui seorang gadis, peristiwa penyelamatan, gerak pemerdekaan Allah terjadi di dunia.

Mengapa Allah tidak mengutus utusan kepada ibu-ibu yang telah menginjak usia paruh baya, yang tentu kaya dengan pengalaman? Keberadaan orang yang masih muda usia, ternyata tidak dianggap sepi oleh Allah. Allah mempercayai bahwa para muda bisa menunaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Para muda bisa dipercaya untuk berkarya nyata bagi kebaikan semesta. Ini nyata dari pengalaman Maria ketika menyampaikan fiat-nya."Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Injil Lukas 1:38). Karena kesiap-sediaan seorang gadis yang bernama Maria, maka sejarah keselamatan menemukan titik awalnya. Dan, gadis belia dari keturunan Daud, Maria, diandalkan oleh Allah bagi karya-Nya yang agun dan mulia, menyelamatkan dunia.

 

 

Menggagas Sumbangan Kaum Muda terhadap Negara dan Gereja

Merefleksikan dua kisah di atas menjadi jelas betapa berharganya potensi kaum muda di hadapan Allah. Dari kesadaran ini, menggagas sumbangan kaum muda terhadap negara dan gereja merupakan hal penting yang perlu terus-menerus diupayakan. Kaum muda bisa! Itulah kabar baik yang disampaikan Kitab Suci. Sekarang, tinggal bagaimana membangun kesadaran kaum muda bahwa mereka memiliki potensi untuk berperan secara strategis dalam rangka membentuk keadaban publik pada masa kini, dan bukan pada masa depan! Dalam rangka ini, sumbangan pikiran untuk terus mewacanakan hal ini perlu menjadi agenda yang penting. Perlu banyak media digunakan untuk menghantar pada kesadaran bahwa kaum muda bisa. Semoga kesediaan Majalah Inspirasi pada bulan ini mengangkat tema di seputar peran dan sumbangan kaum muda, bisa memicu gerak inspiratif pada alam kesadaran para kawula muda.

 

Bila diamati, para politikus negri ini masih banyak didominasi orang-orang tua. Karena itu,sepertnya melek politik, adalah agenda penting bagi kaum muda gereja. Proses-proses politik yang mesti terjadi dalam negara demokrasi perlu mendapat pencermatan dari kaum muda. Medan politik adalah medan banyak keputusan diambil. Jiwa muda adalah jiwa yang dipenuhi keberanian. Kadang kala, keputusan radikal perlu diambil. Untuk jenis keputusan ini tentu memerlukan keberanian menyala yang menjadi khasnya para muda. Keradikalan perlu diambil manakala itu bersinggungan dengan soal semakin publik beradab atau tidak.

 

Apalagi, sekarang ini kita tengah menghadapi persoalan pemanasan global yang mengancam lingkungan hidup kita. Kadangkala, kebijakan yang diambil para politisi justru kontra terhadap gerakan pelestarian lingkungan. Dalam konteks inilah, peran kaum muda sangat diharapkan. Roh kepedulian terhadap lingkungan kiranya bertumbuh dalam jiwa para muda, sehingga menjadi pelopor gerakan pelestarian lingkungan hidup. Semangat melestarikan lingkungan yang dimiliki kaum muda bisa menjadi kekuatan untuk mempengaruhi semua kebijakan supaya berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

 

Selain itu, semangat muda pula yang kiranya menginspirasi pada gerakan pembaruan dalam Gereja. Semangat dan jiwa kreatif ala kaum muda tentu sangat dibutuhkan bagi gerakan pembaruan Gereja. Tanpa semangat dan kreativiatas ala kaum muda dalam rahmat Allah tidak mungkin Gereja mampu memenuhi tuntutan gerak zaman. Kegigihan seperti ditunjukkan Daud, kemurnian hati Maria, kiranya menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk terus bersemangat dalam berperan serta menghadirkan Gereja yang semangat dalam membangun keadaban publik. Untuk maksud ini, tantangan beriman bagi para muda dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah bagaimana mencari wadah untuk dapat bergerak lintas iman, selain memiliki ketekunan dalam persekutuan penghayatan iman kristiani. Pergaulan dan perjumpaan dengan para penganut agama lain merupakan kebutuhan mendesak, untuk supaya dapat menghadirkan keadaban publik itu bersama-sama dengan semua penganut agama yang berkehendak baik. Akhirnya, wahai para muda bangkit dan bergeraklah melintasi sekat-sekat ekslusivisme demi pembentukan keadaban publik yang baru baik bagi gereja maupun negara.

No comments:

Post a Comment