Tuesday, February 3, 2009

POKJA KLABOY MELUNCUR KE SRAGEN

Senin, 2 Pebruari 2009

"Pokja bencana klasis sedang persiapan meluncur ke tanon-sragen untuk kirim barang sesuai sos klasis sragen: minyak kayu putih, autan, jahe wangi, mie instan susu kotak. Kami bawa cukup utk 100KK. Karena muatan penuh.. Tempat duduk hanya tinggal 2 orang. Yg berangkat p.Simon(nyambi sopir) dan p.Kris. Mohon doa"

Pesan pendek dari Pdt. Simon Julianto tersebut masuk pada pukul 12:30:44. Saya lalu membalas. "Baik Pak, slmt jln. Sbnrya sya ingin meliput utk kpntingan media n pnelitian. Tpi klo dah pnuh ya ap blh buat. Salam."
Tak lama berselang datang lagi sms dari Pdt. Simon.
"Lha niku, njenengan kalah kaliyan dos mie. Masalahe mboten wantun mbeta kijang. Wanine mung jimny katana. Niki lagi dipak.. Lha yen taksih wantun diseseli setunggal. Mangke kula kabari."
Sembari berharap masih bisa ikut, saya pun segera merespon.
"Matur nuwun pak. Mugi2 taksih saged ndhesel. Sinambi mangku mbak Mie btn napa2. Nuwun."

Akhirnya saya pun diminta Pdt. Simon meluncur ke GKJ Sabda Mulya. Pdt. Kristanto sudah menunggu di sana. Setelah Pdt. Simon datang, meluncurlah si Jimny Katana dengan lincah ke Klasis Sragen. Saya pun berdesakan dengan dus mie instan. Satu dus 'mbak' Sarimie pun saya pangku.

Sampai di Pokja Bencana Klasis Sragen, Jl. Raya Sukowati no. 882, beberapa relawan sudah menunggu. Pdt. Yemima yang dihubungi pun segera datang. Pdt. Yemima menyarankan supaya barang-barang tidak langsung dibawa ke tempat korban banjir, tetapi perlu dibagi dalam paket. 11 dos mie instan, 600 sachet autan, 100 botol minyak kayu putih, 200 sachet kecap, 400 bungkus jahe wangi, 5 dus susu indomilk pun kami turunkan, sembari menunggu kedatangan Pdt. Elly Subagyo yang akan menghantar kami melihat lokasi banjir.

Pengalaman banjir tahun yang lalu kelihatannya telah membuat Pokja Klasis Sragen terlatih. Ini kelihatan dengan kesiapan petugas untuk mendata dengan baik setiap bantuan yang masuk. Dalam fase tanggap darurat, droping nasi bungkus pun dilakukan. Jam 6 pagi setelah mendengar pada malam hari banjir datang segera dikirim ke daerah banjir. Sungguh kesiap-sediaan yang pantas disyukuri.

Tak lama menjelang, Pdt. Elly Subagyo datang dan segera menghantar kami meninjau lokasi. Daerah Sapen, Kecamatan Sragen yang menjadi tujuan utama. Terlihat bekas banjir yang masuk rumah setinggi sekitar satu meter. Di sepanjang jalan terpampang pemandangan sawah-sawah yang habis terendam banjir. Banyak padi-padi yang ambruk. Menurut Pak Elly banjir kemarin termasuk cepat susut. Hanya mampir selama kurang lebih 24 jam. Berbeda dengan tahun kemarin.

Sebelum pulang, kami mampir di rumah salah satu anggota jemaat Pdt. Elly. Keluarga Pak Sutrisno terlihat sangat senang menerima kedatangan kami. Pak Trisno bersyukur, banjir tidak sampai masuk rumah. Hanya anguk-anguk di teras. Namun tidak bisa kemana-mana karena dikepung banjir. Pak Trisno ternyata pernah bekerja di Boyolali sekitar 14 tahun. Bu Trisno sendiri berasal dari Nogosari. Daerah yang sangat dihafal oleh Pdt. Kristanto Dwi Utomo. Berkisahlah Pak Trisno tentang masalalunya dengan menyebut teman-teman akrabnya, yang ternyata kebanyakan adalah warga GKJ Simo, tempat Pdt. Kristanto melayani. Setelah dirasa cukup kami pun pamitan dengan menyampaikan kata-kata berkat, "Gusti mberkahi panjenengan." "Inggih Pak Pendeta, matur nuwun."

No comments:

Post a Comment